Pada 7 Agustus, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) mengumumkan pelarangan penggunaan pembatas kaku di sepanjang lapangan dalam sistem Liga Nasional setelah tragedi yang menimpa mantan pemain akademi Arsenal, Billy Vigar. Keputusan ini diambil setelah Vigar mengalami cedera otak parah akibat terjatuh dan menghantam kepala pada pembatas beton di sisi lapangan saat bermain untuk klub Chichester City di Isthmian League Premier Division.
Pelarangan ini berfokus pada segala jenis pembatas yang terbuat dari bata padat, blok angin, atau beton. FA mengharuskan agar semua pembatas ini dihapus secepatnya atau dilindungi dengan perlindungan yang sesuai jika tidak bisa dihapus karena alasan struktural. Pernyataan resmi dari FA menyatakan, “Kami telah menginformasikan kepada klub-klub di tingkat ini bahwa mereka harus mengambil tindakan sebagai hasil dari perubahan ini.”
FA juga telah melakukan tinjauan menyeluruh tentang keselamatan dinding dan batas lapangan yang melibatkan para ahli kesehatan dan keselamatan independen. Tinjauan ini ditujukan untuk diterapkan pada musim 2026-27, dan FA bersama dengan Premier League akan menyediakan dana untuk membantu implementasi perubahan tersebut.
Tragedi seperti yang dialami oleh Billy Vigar memberikan pelajaran penting bagi seluruh dunia sepak bola, termasuk di Indonesia. Keselamatan pemain harus menjadi prioritas utama, dan langkah-langkah preventif harus diterapkan untuk mencegah insiden serupa, baik di level amatir maupun profesional. Di Indonesia, federasi sepak bola juga diharapkan dapat mengambil contoh dari kebijakan ini untuk meningkatkan standar keselamatan di lapangan.
Penting bagi semua klub untuk menyadari tanggung jawab mereka dalam menjaga keselamatan pemain, mengingat risiko yang dihadapi di lapangan. Pelarangan pembatas kaku adalah langkah positif menuju lingkungan bermain yang lebih aman dan lebih baik bagi semua.